Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 2nd, 2011


Sapto Djojokartiko featured on the cover and inside interview for the September 19th 2007 issue of free magazine, Area. In the two pages article photographed by Tajuluddin, Sapto Djojokartiko talked about how he was being called as the indie designer, his early work with Reshna (both of them collaborated on a fashion line, Reshna-Sapto, back in 2000 until 2007) and his plan to starting his own label under his name, Sapto Djojokartiko.

Below are the “Sapto Djojokartiko The Indie Designer!” article excerpt where the designer was interviewed by Erina Lebang:

Bagi masyarakat awam nama Sapto Djojokartiko mungkin belum akrab di telinga. Namun, lewat label Reshna-Sapto yang dibangunnya lewat jalur indie, nama dan karyanya sudah diperhitungkan di industri rancang busana dan kalangan pengamat fashion. Erina Lebang mengajak Anda mengenal lebih jauh sang indie fashion designer ini.

Mengapa Anda disebut indie designer?
Mungkin, karena saya tidak ikut bergabung dalam organisasi-organisasi desainer. Memang, kalau tergabung dalam organisasi seperti itu akan lebih sering hadir di setiap acara organisasi tersebut. Tapi, saya lebih suka yang underground dan promosi label dengan cara ‘mouth to mouth‘.

Sebagai indie designer, desain Anda berasal dari genre apa?
Saya lebih suka klasik dengan detil unik dan berbeda. Lebih tepatnya, saya suka bermain dengan ornamen. Saya suka memadukan dua hal yang kontras. Misalnya, saya sempat dicap sebagai desainer kebaya. Karena tidak ingin dicap seperti itu, sekarang saya lebih menonjolkan signature sendiri sehingga orang yang datang lebih mengikuti desain saya.

Sebagai desainer Indonesia, bagaimana cara memilih musim untuk koleksi-koleksi Anda?
Memang susah, sih, karena di sini tidak ada musim. Biasanya, kami hanya mengeluarkan koleksi satu tahun sekali. Tapi, itu sudah sulit karena desainer Asia lebih senang dengan detil.

Dari mana biasanya Anda mendapat inspirasi?
Biasanya, saya terinspirasi dari science, story/icon legend, musik, artifacts, dan art performing.

Prestasi apa saja yang sudah Anda dapat?
Waktu baru lulus kuliah, saya memang suka mengikuti beberapa lomba dan menang, tetapi hal tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap karir saya sekarang. Kesuksesan karier saya akibat networking. Dulu, saya bekerja di Oscar Lawalata selama 2 tahun sebagai asisten desainer. Setelah itu, saya mendirikan label sendiri bersama Reshna.

Sejak kapan brand Reshna-Sapto berdiri?
Brand ini ada sejak 2000. Jadi, kami sudah 7 tahun. Saya menjadi desainer dan Reshna lebih bergerak dalam bidang marketing. Sebenarnya, masih banyak orang belum notice dengan keberadaan kami, hanya orang-orang di lingkungan tertentu yang tahu tentang kami.

Kalau di luar negeri kan biasanya ada koleksi autumn-winter, kalau di Indonesia bagaimana?
Apa ya, agak susah karena tidak ada musimnya, dan untuk membuat koleksi seperti itu membutuhkan industri yang besar, sedangkan kita setahun sekali bikin show saja sudah seperti apa susahnya.

Kapan terakhir meluncurkan koleksi terbaru dari Reshna-Sapto?
Sekitar Mei dan Juli, kami mengeluarkan dua small collection dengan tema berbeda. Jadi beda dengan baju yang kami jual, koleksi ini lebih merupakan statement dari kami. Orang yang memang mau pakai jadi bingung, tapi feedback dari pers sangat baik.

Bisa diceritakan seperti apa koleksinya?
Koleksi untuk Mei lebih mengarah ke futuristik, cyber-techno, dan gothic. Kami bermain dengan volume dan sepertinya koleksinya absurd, kami melebih-lebihkan segala sesuatu. Kalau yang Juli itu juga bermain dengan volume, tapi lebih banyak bermain dengan warna hitam putih, lebih banyak detil dan desain yang lebih klasik.

Siapa saja klien Anda?
Biasanya, artis-artis dalam negeri dan beberapa artis yang berasal dari Kuala Lumpur. Ada pula orang-orang RI 1. Jadi klien saya memang berasal dari beberapa kalangan.

Apakah rencana Anda selanjutnya?
Saya akan membuat label sendiri, SaptoDjojokartiko, yang merupakan nama panjang saya. Saya ingin mempunyai dua line. Pertama, custom made dan couture dengan kisaran umur 25 tahun ke atas. Kedua, semi-mass production dengan kisaran umur lebih muda, yaitu 18-25 tahun.

Read Full Post »

%d bloggers like this: