Feeds:
Posts
Comments

Archive for August 16th, 2011


The recipient of Fashion Designer of The Year from Elle Style Awards 2011, Sapto Djojokartiko, shared in an article for Elle Indonesia that he admired the way fellow Indonesian designer, Biyan, accommodate the commercial and creative sides. Below are more quotes from Elle Indonesia July 2011 issue:

Apa yang Anda kenakan malam ini?
Kemeja Valentino, celana Gucci, dan sepatu Christian Louboutin.

Sebagai desainer, bahan apa yang jadi favorit Anda dalam merancang pakaian?
Bisa dibilang saya suka bahan yang dari luar terlihat simpel, tapi di balik itu ada proses pengerjaan yang complicated, yang ada ceritanya.

Siapa desainer lokal atau luar yang menjadi inspirasi Anda?
Saya mengagumi cara Biyan mengakomodasi sisi komersil dan kreatifnya.

Ruben William wrote “Take A Bow” article in the same issue of the magazine regarding the Elle Style Awards 2011 fashion show where Sapto Djojokartiko took part in the event last April. Click here to view the runway and backstage images of the event and here for the fashion spreads published in the same issue of the magazine where the collections are featured.

Empat desainer mencoba menggurat tiap tahap mimpi ke dalam ranah fashion. Inkarnasi penuh fantasi yang coba diurai oleh Ruben William.

Live Your Dreams. Sebuah kalimat yang merangkum kehidupan tiap individu. Kali ini, kalimat itu dicoba diinterpretasikan menjadi empat kata yang menggambarkan mimpi terdasar manusia. Luxurious. Serenity. Romantic. Surreal. Kalimat itu pula yang memberi napas lahirnya halaman-halaman fashion pada majalah ELLE Indonesia di edisi ulang tahunnya yang ke-3. Dan malam itu, didaulatlah empat desainer kenamaan tanah air; Mel Ahyar, Oka Diputra, Sapto Djojokartiko, dan Irsan, untuk menghidupkan kembali mood board tersebut ke panggung ELLE Style Awards 2011.

Pengunjung dibuat larut ketika Mel Ahyar membuka fashion show dengan koleksi bertema luxurious. Gaun body con yang membalut sempurna tubuh kelima model, tampil begitu modern. Jika glamor diidentikkan dengan banyak sentuhan keemasan di sana-sini, Mel Ahyar justru memilih sebaliknya, sangat subtle dengan tak tampil “blak-blakan”. Detail gold hanya digunakan sebagai aksen.

Sequence selanjutnya adalah milik Oka Diputra. Kali ini, seluruh model mengenakan koleksi serba putih yang memberi impresi bersih dengan busana berpotongan sederhana berdetail lipit dan draperi. Oriental look sebagai dasar tema serenity ini sangat minim ornamen, terlihat jelas jika rancangannya tersebut ingin berbicara lebih lantang melalui cutting yang tegas.

Pendar lampu kamera kembali terlihat, seiring dengan karya Sapto Djojokartiko yang siap menggores panggung. Kesan romantis begitu kental terlihat pada koleksinya. Warna-warna pastel dengan permainan draperi sangat sesuai dengan penggunaan material ringan, seperti kain sifon, lace, dan tule yang sengaja dibuat unfinished. Raut feminin pun jelas ketara pada pemakaian detail ruffle dan tumpuk. Mengingatkan pada millefeuille, pastry cantik asal Prancis. Sekali lagi, mata pengunjung berhasil dimanjakan.

Fashion show ditutup dengan penampilan dramatis yang sedikit teatrikal dari Irsan. Surealisme dipresentasikan oleh Irsan melalui potongan baju berbahan kulit yang diolah menjadi fringe dan armor, harmonisasi warna hitam serta merah yang dominan, juga sentuhan oriental yang tampak di beberapa detail. Bahan parasut pada rok ekstra lebar yang tampak spektakuler dikenakan oleh model terakhir, menjadi pertanda berakhirnya pagelaran busana di malam itu. Kolaborasi mengagumkan yang jelas memberi makna baru pada dunia fashion tanah air.


Read Full Post »

%d bloggers like this: