Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2011



Please enjoy the special images taken during fitting in Sapto Djojokartiko’s studio and Dewi Fashion Knights backstage on the last day of Jakarta Fashion Week 2012, Friday, November 18th 2011.

Go to Sapto Djojokartiko’s Facebook fanpage and view more of the exclusive backstage snaps. You can also view the runway images of Sapto Djojokartiko for Dewi Fashion Knights here.

All images by Dodo for Sapto Djojokartiko.





Read Full Post »


Upon closing the book authored by Pramoedya Ananta Toer titled as “The King, The Witch and The Priest”, Sapto Djojokartiko immediately went to his drawing board and created Sang Randeng Girah, a ten-look collection that was presented in Dewi Fashion Knights in the last day of Jakarta Fashion Week 2012 on Friday, November 18th 2011 at Pacific Place.

The story touched his mind where the character Calon Arang became his main inspiration. In an interview, the designer explained a little about Calon Arang, “She is vengeful, she is fierce, she is powerful and she’s a woman. That’s why this collection reflects Calon Arang, but the Calon Arang that would live and breathe amongst us in a modern time.”

In his first participation for Dewi Fashion Knights, the Solo born designer was representing the mystical part of Bali that rarely been touched by many people. The collection (in black, metallic, gold and the softest hue of pink) reflects Balinese tradition: lace for relief carvings, netted fabric for the flow of movement in a dance and the sequins that becomes the major player in the collection reflects the vibrancy and modernity that Bali has – and also what the modern woman is to Sapto Djojokartiko.

Other nuances and detailing that are involved in Sang Randeng Girah are the texture of rope, nails and hair.

You can view the complete images from the runway show in Sapto Djojokartiko’s Facebook fanpage, here.



Read Full Post »



Actress and host, Donita, is wearing Sapto Djojokartiko’s white sleeveles lace dress with beads inside the same issue of Kartini. She was also photographed by adimodel and styled by Wiwit Sebrina Tristi for another shot in the same blue dress with tulle details as the cover.

Read Full Post »


Sapto Djojokatiko’s black dresses are featured in two different editorials in the November issue of Marie Claire Indonesia. The first one is a sleeveless black dress with ruffles detail as worn by Aimee Juliet (above) photographed by Peter Tjahjadi and styled by Erlangga S. Negoro.

The second black dress is a velvet dress with lace insert as worn by Laura Antonietta with the styling works by Temmy Rosalina. The image was photographed by Glenn Prasetya.

Read Full Post »


In the November issue of dewi magazine, Sapto Djojokartiko not only have his dresses graced the cover and editorials, but the designer himself also featured for an article and interview titled “20 Tentang 20”. Sapto Djojokartiko answered 20 questions by Dany David about style, women and dewi magazine who celebrated their 20th Anniversary this month.

There’s also an image of Sapto Djojokartiko with fellow fashion designers Priyo Oktaviano and Sally Koeswanto, aptly titled “The Rebel Rousers”, photographed by luki for lukimages with the styling works by Raden Prisya (last image below) in the same issue of the magazine.

Below are the excerpts:

Fashion adalah explorasi sebuah gaya, yang apabila diterima dengan baik, akan memberikan pengaruh dan bisa menjadi panutan bagi orang lain. Menurut pandangan saya, fashion itu lebih kepada style dibandingkan tren.
Style adalah gaya personal setiap individu, sangat partikular. Cerminan dari kepribadian masing-masing orang.

Bagaimana Anda pertama kali mengenal fashion? Sebuah kompetisi yang diadakan majalah dewi di pertengahan 1990-an, yang saya ikuti ketika saya masih duduk di sekolah menengah, dalam rangka hari pers di kota Solo. Di acara tersebut saya menyaksikan karya Kiata Kwanda, bertema Moyen Age. Sangat luar biasa terkagum-kagum dengan ide Kiata saat itu.
Hal apa saja yang menginspirasi Anda? Dilahirkan di sebuah kota yang memiliki tradisi yang masih dijaga dengan baik, membuat saya sadar akan budaya upacara adat, tari, musikal, dan segala hal yang berhubungan dengan kultur. Tanpa membatasi sumber tradisi dari daerah di Indonesia, negara lain, bahkan tradisi dari dunia fiksi. Bukan hanya ide fisik, mood juga bisa menginspirasi saya. Semua ini menjadi sumber inspirasi yang menurut saya, tidak terbatas.
Pengaruh terbesar dalam karier Anda? Proses. Dibutuhkan proses pencarian yang panjang, setelah saya menjalani berbagai profesi yang berkaitan dengan fashion, hingga akhirnya menemukan titik yang menyadarkan bahwa menjadi fashion designer adalah dunia saya.
Apa gaya rancangan khas Anda? Memberikan twist terhadap gaya klasik, sentuhan modern, edgy, effortless. Palet netral, misty, dark. Gaya yang tidak mainstream.
Apa yang menjadi tujuan utama Anda dalam berkarya? Kesan apakah yang ingin terepresentasikan pada karya-karya tersebut? Menginterpretasikan gaya saya ke dalam kepribadian mereka. Design yang menyamankan mereka, membuat mereka percaya diri, tanpa ada ketakutan menemukan selusin gaya yang serupa dengan dirinya. Effortless but stunning still.
Apakah filosofi Anda? Selalu peka terhadap apapun.
Menurut Anda, apa fungsi fashion dalam kehidupan seorang wanita? Fashion adalah pelengkap bagi wanita, penyempurna. Fashion adalah objek, bukan subjek. Dan hanya bersifat komplimen.
Apa gambaran seorang wanita ideal menurut Anda? Wanita yang sudah mengerti dirinya, kebutuhannya dan mampu menempatkan kebutuhannya tersebut sesuai fungsi dan kegunaannya. Style yang kuat akan mempertegas karakter dirinya.
Siapakah muse Anda? Cate Blanchett.
Jika Anda dapat memberikan satu saran saja untuk wanita, apakah itu?
Jujur terhadap diri. Semua hal, termasuk style dan fashion. Karakter wanita akan semakin menonjol.
Apa definisi Anda akan kecantikan? Setiap orang dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Ketika keunikan tersebut mampu menjadi ciri khas, disitulah kecantikan terpancar. Jadi cantik bukan standar kesempurnaan, namun self awareness.
Apa memori pertama Anda akan majalah dewi? Sketsa Sebastian Gunawan untuk rubrik astrologi di awal tahun 1990-an. Saya terkagum-kagum dengan sketsa tersebut. Ketika itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Apa kesan Anda akan dewi memasuki usianya yang ke-20? Majalah Indonesia yang mampu mengemas gaya hidup dan fashion inggil tentunya. Dengan bahasa tulisan dan visual yang sangat Indonesia.
Apa harapan Anda akan majalah dewi 20 tahun kedepan? Akan selalu update dengan nafas dan jiwa yang sama. Bisa mewakili fashion Indonesia ke forum yang lebih tinggi, regional, bahkan internasional.
Apa arti usia bagi Anda? Bagaimana kesan Anda saat memasuki usia 20? Proses pematangan terhadap pilihan hidup, ketika kondisi fisik dan mental manusia berada pada titik puncaknya. Bagi saya penambahan usia hanya pararel dengan kedewasaan. Selebihnya, saya merasa stuck di usia 20, dan akan selalu merasa berumur 20-an.
Apakah pendapat Anda akan keadaan fashion saat ini? Secara lokal maupun internasional? Tren bukanlah satu-satunya penentu arah fashion, tetapi penyesuaian karakter desain terhadap personal style, yang mampu membuka peluang lebih besar terhadap industri ini. Bukan hanya produksi rumah mode, bahkan brand pun mampu berkembang secara luar biasa.
Apa pendapat Anda akan Jakarta Fashion Week? Mengakomodasi industri fashion Indonesia untuk mempresentasikan karya mereka, yang diharapkan mampu memberikan arahan perkembangan fashion dalam jangka waktu satu tahun kedepan.
Apakah ekspektasi Anda akan Jakarta Fashion Week tahun ini?
Datangnya buyer dan media internasional yang bisa mempublikasikan produk fashion Indonesia ke media yang lebih luas.


To complete his participation in tonight’s Dewi Fashion Knights in the last day of Jakarta Fashion Week 2012, dewi magazine made an article that was published in JFW 2012 booklet in the same issue of the magazine.

Below are the excerpts from the booklet:

Lulusan Esmod tahun 1998 ini sempat menjajal profesi sebagai costume designer, stylist, ilustrator, hingga make up artist, sebelum menjejakkan kakinya secara mantap di dunia fashion di tahun 2004. Sapto menikmati interaksi dengan klien, melalui garis rancangnya yang klasik, puitis, dengan bubuhan elemen edgy khas dirinya. Melalui kreasinya, Sapto tetap berusaha menempatkan pemakai desain sebagai subjek, karena menurutnya fashion adalah sebuah compliment, yang seharusnya tidak menghilangkan esensi mode. Keikutsertaan dalam Dewi Fashion Knights 2012 adalah kali pertamanya, yang dijadikan sebagai momentum dan puncak penghargaan, ketika desainer mempresentasikan kreativitasnya. Berdasarkan observasi buku karya Pramudya Ananta Toer: The Priest, The King and The Witch, Sapto menerjemahkan kekuatan dan sisi gelap karakter Calon Arang, yang sangat teguh mempertahankan kekuasaannya.
Napas Bali sebagai latar belakang, tersapu dalam palet dan volume yang dipilihnya sebagai direktori desain. Warna-warna base metal dari emas, perunggu sampai perak gelap, akan dihadirkan perancang yang pertama kali mengikuti Jakarta Fashion Week pada 2009, diikuti dengan peluncuran koleksi Ready to Wear untuk department store eksklusif Harvey Nichols pada 2010, dan presentasi koleksi yang diberinya tajuk Flysioner.

Read Full Post »


Actress and host, Noni Anisah Ramadhani or famously known simply as Donita, was photographed by adimodel for the cover of Kartini magazine No.2308 November 03rd – 17th 2011 in Sapto Djojokartiko’s blue dress with tulle details. The styling works was done by Wiwit Sebrina Tristi.



Read Full Post »


In the November issue of dewi magazine, Sapto Djojokartiko’s dressses are featured and photographed by Arino Mangan and Panji Indra Permana for two different fashion spreads.

The first two images below are taken from “Serindai Lamin Eheng” styled by Jo Elaine and photographed by Panji Indra Permana. The model, Melinda (JIM), is wearing Sapto Djojokartiko’s gold lamé dress with beads and sequins bustier. In the second image, the model wearing coins bracelets and a sleeveless dress with tiger skin patterns made from sequins also by Sapto Djojokartiko.

The next two images are taken from “Sabang, di Pelabuhan Kecil” editorial photographed by Arino Mangan and featuring a model, Ekaterina Lee, styled by Karin Wijaya in Sapto Djojokartiko’s sleeveless tulle dress and lace skirt.




Model and actress, Dominique Agisca Diyose (below image, second from left), who sporting a nude colored tulle dress on the cover of this issue, also wearing the same dress by Sapto Djojokartiko for another image in the 20th Anniversary issue of the monthly fashion publication photographed by Arino Mangan with the styling works by Karin Wijaya.

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: