Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Designer Profile’ Category


Below are the excerpts from the “Designer Profile” article that was published in the April 2012 issue of female Indonesia with the accompanying editorial and Sapto Djojokartiko’s picture photographed by Daniel Kampua and Yuan Reva.

Selain dikarenakan pembawaan pribadinya yang humble dan down to earth, Female mengagumi Sapto Djojokartiko karena tak pernah segan berbagi cerita mengenai karya, inspirasi, dan pengalaman hidupnya.

f: Sebagai kota kelahiran, apakah Solo membawa banyak pengaruh bagi karya-karya Anda?
SAPTO: Bagi saya Solo adalah kota dengan history panjang. Solo kaya akan culture, adat istiadat, kebiasaan, dan ritual yang secara tidak langsung menyerap ke dalam pribadi saya, dan membawa pengaruh bagi saya serta memberi inspirasi dalam berkarya.

f: Selain culture dan art, apakah ada hal lain dari kota Solo yang menjadi inspirasi terhadap rancangan Anda?
SAPTO: Sebenarnya Solo bukan inspirasi, tapi lebih tepatnya membentuk cara berpikir saya dalam berkreasi. Inspirasi saya bisa datang dari mana saja. Culture Indonesia yang bermacam-macam, budaya asing, atau imajinasi pun bisa saya jadikan inspirasi. Namun, cara berpikir saya mengenai filosofi, adat istiadat, dan kebudayaan Solo itu bisa menjadi sebuah ide untuk saya.

f: Mungkin ada pengaruhnya dengan kehidupan Anda yang lahir dan dibesarkan di sana?
SAPTO: Betul. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan ritual-ritual, atau apapun yang memiliki unsur magis yang telah menjadi budaya dan suatu kebiasaan masyarakat Solo.

f: Artinya, bisa dikatakan pengalaman masa kecil, kebiasaan, dongeng, cerita rakyat, dan kehidupan tradisional lainnya ikut membentuk pola pikir Anda dalam menghasilkan karya?
SAPTO: Iya, betul.

f: Apakah arti fashion bagi Anda?
SAPTO: Bagi saya fashion adalah sebuah style. Fashion tidak selalu sebuah tren. Lebih kepada pembentukan karakter, eksplorasi diri, dan keberanian mencoba sesuatu. Yang membuat saya berpikir bahwa hal-hal yang membuat seseorang nyaman merupakan sebuah signature dan menjadi personal style bagi mereka.

f: Material apa yang digunakan dalam koleksi terakhir ini?
SAPTO: Dalam koleksi ini saya mencoba menginterpretasikan ukiran-ukiran yang terinspirasi dari ukiran Bali dengan bordir, sequins, dan warna yang digunakan gold, silver, hitam, mauve, dan bronze.

f: Hal apa yang membuat Sapto mencintai fashion?
SAPTO: Itu semua melalui proses. Dari kecil saya suka menggambar. Saya menemukan bahwa sekolah fashion itu tidak selalu mendidik seseorang jadi desainer. Awalnya saya mencoba beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan fashion, tapi bukan mendesain. Baik stylist, wardrobe, atau pun costume designer. Buat saya itu adalah hal yang menyenangkan tapi saya tdak merasakan chemistry. Dan setelah saya menjalani semua, ternyata interaksi saya dengan klien, proses untuk membuat baju dari ide menjadi kreasi yang membuat saya merasa tertarik. Dimulai dari ide, lalu proses secara teknis dan waktu yang dibutuhkan. Hal inilah yang membuat saya tertantang.

f: Melihat koleksi Anda tahun 2009-2010 terdapat kesan dramatis, misterius, dan kaya sentuhan nature. Apakah itu merupakan gambaran Anda tentang seorang wanita?
SAPTO: Saya senang sosok wanita yang tidak terduga atau tidak tertebak dalam bergaya. Di bayangan saya, saya mencoba menampilkan wanita bergaya klasik, tapi tetap update. Atau dengan kata lain orang yang tidak ‘berteriak’ tetapi cukup ‘berbicara’.

f: Apa yang menjadi inspirasi Anda di koleksi ini?
SAPTO: Inspirasi-nya berasal dari Kisah Calon Arang, sebuah cerita rakyat asal Bali, yang kemudian saya kembangkan.

f: Bagaimana harapan Anda sebagai salah satu desainer Indonesia terhadap dunia fashion di Indonesia?
SAPTO: Saya optimis terhadap dunia fashion di Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah semakin aware terhadap apa yang mereka butuhkan, tidak sekedar mengikuti tren yang ada. Hal ini menurut saya adalah hal yang positif untuk perkembangan industri fashion di Indonesia.



Advertisements

Read Full Post »


Below are the excerpts from the article published in the April 2012 issue of Jakarta Post Weekender:

This heavily tattooed designer has been praised for the meticulous craftsmanship and elaborate designs that have made him a “rock star” in the local fashion scene. The winner of Elle Indonesia‘s “Best Designer Award” in 2011, Sapto graduated from the prestigious ESMOD fashion school in 1998. Despite his self-confessed life-long love affair with the world of fashion, Sapto forged a career climbing the industry ladder as a costume designer, stylist, illustrator and makeup artist. Today, he is one of the most sought-after designers, with collections that always wow audiences.

In high school, I was already a pretty good illustrator. I would draw people dressed in stylish costumes, which I had designed on paper. And I knew early on what I wanted to be when I grew up, but I didn’t know what to do about it. Because I was raised in Solo, I had little idea what was required for a person to become a fashion designer. Luckily, I entered some design contests and won some prizes. After high school, I received a scholarship to study fashion at ESMOD, and there my journey began.

I got into designing bridal collections unintentionally. When my friend and I decided to turn our love of design into a business, the first order we received was a bridal gown. Our client loved it so much, she began to spread the word and people started coming in and ordering more bridal wear. But with this type of design, it’s important to remember that our role in the process is merely to facilitate our clients’ desires in creating their dream wedding dress. Ever since I was a child I have been mesmerized by weddings, and I really enjoy designing wedding dresses.

I think Indonesian designers have what it takes to compete on an international scale. But the problem is that the talent alone won’t get us to the competition. We need a good sense of business, as well as a great marketing strategy. Because you can’t go out there and compete with the best of them without having a definite plan about where you are heading in your design and business. It’s one thing to create something unique and amazing; it’s quite another to market and make actual money out of it. So the question is not whether it’s important for Indonesian designers to go international; it’s whether we can get the necessary support to get us there.

Trends are not created on the spot. It takes quite a bit of time to study the market and establish what is going to be trendy and when. I think local designers should be more creative in updating our styles, because we can’t always look to other countries. Some design elements are very specific in their country of origin, such as fur. If it’s fur season somewhere else, it doesn’t mean it has to be fur season here. You can’t wear fur when the weather is as hot and humid as it is in Indonesia.

We have to explore the elements of design beyond fashion and textile, as well as batik and ikat fabric. Indonesia has more variety than that. And if we are only focusing on traditional fabric, it would be difficult to produce ready-to-wear items, which require an incredible amount of fabric. Perhaps, instead of the traditional batik, we could start with print batik. So what I’m aiming for right now is, rather than being very, very specific with the material and design, I’m looking to create something that appeals to the mass market.

Indonesian fashion is moving toward more colorful designs: pink, brown, gold, yellow mustard, etc. For me, the Indonesian fashion industry is growing as rapidly as it is now because the local market is a lot smarter today. They know what they want and they are very knowledgeable. My plan for the Indonesian fashion industry is to challenge myself by exploring more deeply what I can contribute to the market. I believe that the market is smart enough to demand more variety; rather than looking at only one specific brand, we are now venturing out into a variety of brands and designs that best represent our styles.

Read Full Post »


Reza Bustami wrote an article about Sapto Djojokartiko in iCreate Magazine Vol.20 with “Fashion Compromise” as the title. The designer was photographed by Adha Togi for the article. Below are the excerpts:

Walaupun sosoknya di blantika fashion tanah air masih terhitung baru, namun hal tersebut justru tidak menyurutkan semangatnya untuk berkompetisi. Berbagai karya dengan signature tak lazim pun disuguhkan kedalam ranah mode. Sapto Djojokartiko, eksplorasi pada koleksi haute couture-nya membawa pengaruh baru dalam sejarah fashion tahun ini. Dengan pribadi yang tenang dan rendah hati, ia melafalkan bagaimana sebuah proyek idealis harus berkrompomi dengan bisnis.

Apa yang melatar belakangi Anda terjun ke dalam industri fashion?
Berawal dari sebuah hobby menggambar dan senang akan sesuatu yang berbentuk visual, yang akhirnya membawa saya menekuni dunia ini. Dengan hanya bermodalkan kedua bekal tersebutlah, saya nekat untuk bekerja menjadi desainer untuk sebuah garmen setelah lulus SMA. Setelah sempat 9 bulan bekerja ditempat tersebut, barulah saya mengambil studi di ESMOD selama 1 tahun. Namun walaupun telah mengenyam basic design, perjalanan untuk menjadi desainer masihlah panjang, hal inilah yang menyebabkan saya harus menjalani beberapa pekerjaan.
Dimulai menjadi desainer kostum panggung untuk suatu pagelaran, stylist, make up artist hingga menjadi asisten desainer untuk Oscar Lawalata selama 2 tahun. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Rezna dan kami membuat brand khusus untuk kebaya pengantin di tahun 2003, setelah berjalan selama 4 tahun Saya mulai merasa jenuh. Karena dengan apa yang telah saya kerjakan selama 4 tahun, idealisme saya tidak berkembang. Pada tahun 2007 barulah saya memantapkan pilihan saya untuk membuat brand atas nama pribadi ‘Sapto Djojokartiko’.

Beberapa koleksi yang Anda buat terlihat ‘out of the box‘, bahkan bisa dibilang fungsinya sebagai pakaian tidak dapat berkrompommi dengan pemakainya. Apa yang melandasi Anda untuk membuat karya seperti ini?
Sebenarnya banyak orang yang sudah kenal dengan saya semenjak masa sekolah dulu, mempertanyakan kemana perginya seorang Sapto yang dikenal penuh dengan ide-ide gila. Jadi sebenarnya brand Sapto Djojokartiko saat ini adalah jati diri saya yang sebenarnya, jika ditelaah kembali alasan kenapa saya dulu sempat fokus dengan kebaya, itu adalah bentuk kompromi saya terhadap kemauan klien. Bisa dikatakan saat itu adalah fase dimana saya harus menekan idealisme demi menciptakan strategi, untuk memperkuat finansial guna mewujudkan ide-ide tersebut.

Fashion bukan hanya sekedar idealisme tapi terkait erat dengan bisnis. Apa yang membuat Anda yakin bahwa idealisme dapat berjalan beriringan dengan bisnis, sementara koleksi Anda bukan ready to wear?
Pada tahun 2009, merupakan tahun pertama saya membuat koleksi untuk Jakarta Fashion Week based on ‘Sapto Djojokartiko’. Walaupun pada saat presentasi koleksi tersebut terasa begitu idealis, tetapi pakaian tersebut jika dipecah-pecah masih memiliki fungsi. Sampai akhirnya koleksi tersebut saya jual di Harvey Nichols, ternyata pakaian tersebut ada yang membeli. Dari semenjak itulah saya memiliki keyakinan kalau idealisme saya sudah bisa sejalan dengan bisnis, terlebih lagi kini untuk beberapa koleksi terakhir style nya sudah dapat lebih berkompromi.

Dari beberapa koleksi yang telah di buat Anda menonjolkan signature yang berbeda-beda, seperti constructive dan drapping. Sebenarnya karakter seperti apa yang merupakan signature dari karya Anda?
Selama ini saya membuat koleksi memang selalu berdasarkan mood dan emosi yang saya rasakan, ditambah lagi saya masih senang mengeksplor tehnik dalam membuat pakaian. Jadi saya tidak suka mengkotak-kotakan gaya saya seperti apa. Memang antara koleksi pertama dengan koleksi kedua secara warna sangat berbeda, tetapi jika diratakan satu sama lain sebenarnya memiliki benang merah hanya inspirasinya yang berbeda.
Seringkali ide awal saat digambar berbeda dengan saat pakaian tersebut sesudah jadi,karena bagi saya yang terpenting adalah saya tidak merubah inti dari pakaian tersebut. Saya sangat menyukai sesuatu yang classy dengan sedikit twist. Misalnya, walaupun wujudnya constructive tapi bentuk asli adalah hanya tube dress. Sama halnya dengan kebaya, saya tidak akan merubah siluet anggun dari kebaya tersebut melainkan hanya memberi sedikit twist pada detail-detail tertentu.

Selain Anda suka mendekonstruktif suatu bentuk, apakah Anda juga suka mengubah bentuk suatu bahan?
Saya sangat suka sekali mengubah bentuk suatu bahan, hingga berbeda dengan wujud aslinya. Misalnya dari bahan yang plain saya ubah menjadi bertekstur atau membuat velvet menjadi embroidery. Saya juga tidak senang dengan warna bahan yang sudah banyak dipasaran. Dan untuk beberapa jenis bahan sebelum diolah harus mengalami beberapa proses dahulu, agar hasilnya berbeda. Intinya saya sangat menyukai exploring fabric.

Bagi Anda untuk suatu pakaian selain wujudnya yang menarik, dan bahan yang berbeda dari pasaran. Apakah ada hal lain yang juga penting bagi Anda?
Hal lain yang juga penting bagi saya adalah pattern. Dulu pada saat saya sekolah design sempat dikeluarkan dari kelas pattern making, karena saya tidak menyukai kelas tersebut. Tapi setelah bekerja di Oscar Lawalata saya mulai mempelajari pattern, ditambah saya juga memperdalamnya melalui buku-buku. Bagi saya inti dari sebuah pakaian adalah selain nyaman dipakai, juga membuat tubuh seseorang menjadi tampak proporsional, bukan mengubah badan seseorang yang gemuk menjadi kurus. Jadi sebab itulah mengapa pattern bagi saya merupakan hal yang penting.

Setelah proyek idealis Anda saat ini telah tercapai, apakah ada cita-cita lain yang ingin Anda raih di industri fashion ini?
Sebenarnya ada rencana untuk membuat suatu label ready to wear yang mass product untuk wanita dan pria, dan tentunya tidak membawa label ‘Sapto Djojokartiko”. Tapi sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan, karena masih dalam tahap persiapan segala aspek.

Dengan begitu banyaknya brand mancanegara yang silih berganti masuk ke Indonesia, apakah hal tersebut juga mendorong Anda untuk melebarkan pasaran ke luar negeri?
Sempat terlintas untuk memasarkan karya saya ke luar negri, dan kemungkinan itu adalah timur tengah. Tapi masih belum dapat dipastikan, masih banyak faktor-faktor lain yang harus diperhitungkan sebelumnya. Karena dalam melebarkan suatu bisnis ke Negara lain, bukan hanya sekedar semangat untuk berkompetisi saja melainkan butuh banyak pertimbangan yang matang. Terlebih lagi untuk mendirikan sesuatu yang besar dalam industri fashion sangat berat.



Read Full Post »


Sapto Djojokartiko featured on the cover and inside interview for the September 19th 2007 issue of free magazine, Area. In the two pages article photographed by Tajuluddin, Sapto Djojokartiko talked about how he was being called as the indie designer, his early work with Reshna (both of them collaborated on a fashion line, Reshna-Sapto, back in 2000 until 2007) and his plan to starting his own label under his name, Sapto Djojokartiko.

Below are the “Sapto Djojokartiko The Indie Designer!” article excerpt where the designer was interviewed by Erina Lebang:

Bagi masyarakat awam nama Sapto Djojokartiko mungkin belum akrab di telinga. Namun, lewat label Reshna-Sapto yang dibangunnya lewat jalur indie, nama dan karyanya sudah diperhitungkan di industri rancang busana dan kalangan pengamat fashion. Erina Lebang mengajak Anda mengenal lebih jauh sang indie fashion designer ini.

Mengapa Anda disebut indie designer?
Mungkin, karena saya tidak ikut bergabung dalam organisasi-organisasi desainer. Memang, kalau tergabung dalam organisasi seperti itu akan lebih sering hadir di setiap acara organisasi tersebut. Tapi, saya lebih suka yang underground dan promosi label dengan cara ‘mouth to mouth‘.

Sebagai indie designer, desain Anda berasal dari genre apa?
Saya lebih suka klasik dengan detil unik dan berbeda. Lebih tepatnya, saya suka bermain dengan ornamen. Saya suka memadukan dua hal yang kontras. Misalnya, saya sempat dicap sebagai desainer kebaya. Karena tidak ingin dicap seperti itu, sekarang saya lebih menonjolkan signature sendiri sehingga orang yang datang lebih mengikuti desain saya.

Sebagai desainer Indonesia, bagaimana cara memilih musim untuk koleksi-koleksi Anda?
Memang susah, sih, karena di sini tidak ada musim. Biasanya, kami hanya mengeluarkan koleksi satu tahun sekali. Tapi, itu sudah sulit karena desainer Asia lebih senang dengan detil.

Dari mana biasanya Anda mendapat inspirasi?
Biasanya, saya terinspirasi dari science, story/icon legend, musik, artifacts, dan art performing.

Prestasi apa saja yang sudah Anda dapat?
Waktu baru lulus kuliah, saya memang suka mengikuti beberapa lomba dan menang, tetapi hal tersebut tidak berpengaruh banyak terhadap karir saya sekarang. Kesuksesan karier saya akibat networking. Dulu, saya bekerja di Oscar Lawalata selama 2 tahun sebagai asisten desainer. Setelah itu, saya mendirikan label sendiri bersama Reshna.

Sejak kapan brand Reshna-Sapto berdiri?
Brand ini ada sejak 2000. Jadi, kami sudah 7 tahun. Saya menjadi desainer dan Reshna lebih bergerak dalam bidang marketing. Sebenarnya, masih banyak orang belum notice dengan keberadaan kami, hanya orang-orang di lingkungan tertentu yang tahu tentang kami.

Kalau di luar negeri kan biasanya ada koleksi autumn-winter, kalau di Indonesia bagaimana?
Apa ya, agak susah karena tidak ada musimnya, dan untuk membuat koleksi seperti itu membutuhkan industri yang besar, sedangkan kita setahun sekali bikin show saja sudah seperti apa susahnya.

Kapan terakhir meluncurkan koleksi terbaru dari Reshna-Sapto?
Sekitar Mei dan Juli, kami mengeluarkan dua small collection dengan tema berbeda. Jadi beda dengan baju yang kami jual, koleksi ini lebih merupakan statement dari kami. Orang yang memang mau pakai jadi bingung, tapi feedback dari pers sangat baik.

Bisa diceritakan seperti apa koleksinya?
Koleksi untuk Mei lebih mengarah ke futuristik, cyber-techno, dan gothic. Kami bermain dengan volume dan sepertinya koleksinya absurd, kami melebih-lebihkan segala sesuatu. Kalau yang Juli itu juga bermain dengan volume, tapi lebih banyak bermain dengan warna hitam putih, lebih banyak detil dan desain yang lebih klasik.

Siapa saja klien Anda?
Biasanya, artis-artis dalam negeri dan beberapa artis yang berasal dari Kuala Lumpur. Ada pula orang-orang RI 1. Jadi klien saya memang berasal dari beberapa kalangan.

Apakah rencana Anda selanjutnya?
Saya akan membuat label sendiri, SaptoDjojokartiko, yang merupakan nama panjang saya. Saya ingin mempunyai dua line. Pertama, custom made dan couture dengan kisaran umur 25 tahun ke atas. Kedua, semi-mass production dengan kisaran umur lebih muda, yaitu 18-25 tahun.

Read Full Post »


FashionTV magazine Indonesia featured Sapto Djojokartiko as their “Designer In Focus” in four pages coverage on the May/June 2010 issue. The designer was photographed by Bayu Adhitya.

Priska Andrini wrote in the magazine that “Sapto Djojokartiko’s career has yet to span decades, but what he lacks in experience, he makes up in talent and meticulous craftmanship. Although Sapto’s name is somewhat under the radar in the Indonesian fashion scene, he is a darling to stylists, fashion editors and fashion directors. They adore his elaborate creations!”

She added “Sapto treated his creations like he would his own child, and that is why the Indonesian couturier is here to stay”.

“It changes from time to time. My thoughts take me to wherever I want to go. That’s why I never name my collection with a catchphrase or with clever words. They are what they are” the designer explained on why he never named his collection.

Click on the images for larger view of the article.

Read Full Post »


The Solo born designer was featured in a page of Prestige Indonesia for their July 2010 issue where he and the model who’s wearing his design photographed by House of Arc.

In the magazine, he stated that the brand “Sapto Djojokartiko” was established in 2007 and the brand portrays a classic contemporary design with a touch of surrealism that adds a distinctive edginess and bold statement to the entire collection. He also added that he hopes “the Indonesian fashion industry will always move forward”.

Read Full Post »


female Indonesia featured Sapto Djojokartiko on their “Fashion Beat” section where in the article you can learn that the designer who spent his childhood in Solo, Central Java landed a scholarship for fashion school Esmod Jakarta in 1997 and he almost got expelled.

He was Oscar Lawalatta’s assistant designer, a costume designer and a makeup artist before finding his passion to be a womenswear designer. He was partnered with Reshna for a clothing line in 2000 until 2007.

His turning point was when actress and his best friend, Dian Sastrowardoyo (she helped Sapto to applied sequins) wore his designs and introduced to her friends. Editorial shoots and custom made dresses requests increasing ever since.

Sapto Djojokartiko photographed by Hartadi for the magazine.

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: