Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Adha Togi’






Insan Obi photographed Milena for “Garden of Love” editorial (above) that was published in the 2011 edition of Cosmopolitan Bride in Sapto Djojokartiko’s veil, platform shoes and tulle and lace dresses with the styling works by Adi Surantha.

There are several more fashion spreads that featured Sapto Djojokartiko’s Bridal collection in the same issue of the special wedding related magazine published by Cosmopolitan Indonesia:

– All You Need Is Love, photographer Hadi Cahyono lensed Masha in lace kebayas with buttons detail styled by Lily Marpaung.
– Aisle Style article, featured a high neck lace and embroidery dress with long train and flower details for the Young & Innocent section.
– Back To Romance, photographer Adha Togi lensed Dara Warganegara in tulle, lace and chiffon dresses styled by Anggia Hapsari.
– Bride in Bloom, photographer Rinal Wiratama lensed Julia Jamil in tulle and lace gowns with rosettes, beads and lace details styled by Elsa Simanjuntak.

You can also view the complete runway images of the 2011 Sapto Djojokartiko Bride collection that was held last April, here.










Advertisements

Read Full Post »






Adha Togi photographed Anzhela (Damn-Inc) and Anna Poly (Posh) in Sapto Djojokartiko’s gliterred and crystal encrusted platform shoes, one shouldered lamé dress with embroideries, strapless lace dress with embroderies and buttons detail, one shouldered dress with sequins appliqué and black sweetheart necklined dress with sequins for ‘L’Oroscopo Art’ editorial in iCreate magazine Vol.28 styled by Moch.Reza Rizky







Read Full Post »



Stylist Rajasa Prameswyara featured Sapto Djojokartiko’s collection for his portfolios and also featured in his blog, Four-O-Three and his Facebook page.

In “African Beauty” spread (above)–a photography concept for the Bengkel Rally Photo LIFO FEUI 2011 with photographer Glenn Prasetya as the trainer and Director of Lighting–model Tracy Shuckleford wearing Sapto Djojokartiko’s ruched and ruffles black dresses. While in “Alter Ego” (below) photographed by Retno Prasasti, model Kemala Putri wearing the designer’s bold shouldered blazer and shoes.



In Cygnus Atratus (The Black Swan) fashion spread below, a pagoda shouldered blazer, black platform shoes with super thin heels, white satin bustier dress with a structured ruffles vest, a mermaid line tulle skirt and a black ruffles skirt with long train by Sapto Djojokartiko worn by model Kemala Putri and photographed by Retno Prasasti.



A black structured ruffles vest (worn as a headpiece) and a black ruffles skirt with long train was featured on “Entheos” spread photographed by Retno Prasasti and worn by Kemala Putri.


In “L’Ultimo (The Last One)“, Sapto Djojokartiko’s black ruffles vest, black ruffles skirt (worn as a cape), a structured ruffles vest and a bold shouldered blazer was worn by model Elio Jezierski and photographed by Hariono Halim.



Sapto Djojokartiko’s platform shoes, black vest made from rubber rope, grey and black long dresses with lace inserts and drapery details was photographed by Ricko Sandy for “Mars-Venus” spread with Masha Litvinova, Dana Jumataeva and Gregg Dodds as the models.


In another photography concept for the Bengkel Rally Photo LIFO FEUI, an armor vest and platform shoes by Sapto Djojokartiko was photographed by Glenn Prasetya and worn by Juliette.



In a burlesque themed photo shoot lensed by Adha Togi, the models (Katya Talanova and Masha Litvinova) are wearing Sapto Djojokartiko’s black ruffles skirt with long train, black ruffles vest, one shouldered ruffles vest, over the knee stiletto leather boots, sequined lace dress, lace pencil skirt and black tulle tube dress with drapery details.




Read Full Post »


Reza Bustami wrote an article about Sapto Djojokartiko in iCreate Magazine Vol.20 with “Fashion Compromise” as the title. The designer was photographed by Adha Togi for the article. Below are the excerpts:

Walaupun sosoknya di blantika fashion tanah air masih terhitung baru, namun hal tersebut justru tidak menyurutkan semangatnya untuk berkompetisi. Berbagai karya dengan signature tak lazim pun disuguhkan kedalam ranah mode. Sapto Djojokartiko, eksplorasi pada koleksi haute couture-nya membawa pengaruh baru dalam sejarah fashion tahun ini. Dengan pribadi yang tenang dan rendah hati, ia melafalkan bagaimana sebuah proyek idealis harus berkrompomi dengan bisnis.

Apa yang melatar belakangi Anda terjun ke dalam industri fashion?
Berawal dari sebuah hobby menggambar dan senang akan sesuatu yang berbentuk visual, yang akhirnya membawa saya menekuni dunia ini. Dengan hanya bermodalkan kedua bekal tersebutlah, saya nekat untuk bekerja menjadi desainer untuk sebuah garmen setelah lulus SMA. Setelah sempat 9 bulan bekerja ditempat tersebut, barulah saya mengambil studi di ESMOD selama 1 tahun. Namun walaupun telah mengenyam basic design, perjalanan untuk menjadi desainer masihlah panjang, hal inilah yang menyebabkan saya harus menjalani beberapa pekerjaan.
Dimulai menjadi desainer kostum panggung untuk suatu pagelaran, stylist, make up artist hingga menjadi asisten desainer untuk Oscar Lawalata selama 2 tahun. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Rezna dan kami membuat brand khusus untuk kebaya pengantin di tahun 2003, setelah berjalan selama 4 tahun Saya mulai merasa jenuh. Karena dengan apa yang telah saya kerjakan selama 4 tahun, idealisme saya tidak berkembang. Pada tahun 2007 barulah saya memantapkan pilihan saya untuk membuat brand atas nama pribadi ‘Sapto Djojokartiko’.

Beberapa koleksi yang Anda buat terlihat ‘out of the box‘, bahkan bisa dibilang fungsinya sebagai pakaian tidak dapat berkrompommi dengan pemakainya. Apa yang melandasi Anda untuk membuat karya seperti ini?
Sebenarnya banyak orang yang sudah kenal dengan saya semenjak masa sekolah dulu, mempertanyakan kemana perginya seorang Sapto yang dikenal penuh dengan ide-ide gila. Jadi sebenarnya brand Sapto Djojokartiko saat ini adalah jati diri saya yang sebenarnya, jika ditelaah kembali alasan kenapa saya dulu sempat fokus dengan kebaya, itu adalah bentuk kompromi saya terhadap kemauan klien. Bisa dikatakan saat itu adalah fase dimana saya harus menekan idealisme demi menciptakan strategi, untuk memperkuat finansial guna mewujudkan ide-ide tersebut.

Fashion bukan hanya sekedar idealisme tapi terkait erat dengan bisnis. Apa yang membuat Anda yakin bahwa idealisme dapat berjalan beriringan dengan bisnis, sementara koleksi Anda bukan ready to wear?
Pada tahun 2009, merupakan tahun pertama saya membuat koleksi untuk Jakarta Fashion Week based on ‘Sapto Djojokartiko’. Walaupun pada saat presentasi koleksi tersebut terasa begitu idealis, tetapi pakaian tersebut jika dipecah-pecah masih memiliki fungsi. Sampai akhirnya koleksi tersebut saya jual di Harvey Nichols, ternyata pakaian tersebut ada yang membeli. Dari semenjak itulah saya memiliki keyakinan kalau idealisme saya sudah bisa sejalan dengan bisnis, terlebih lagi kini untuk beberapa koleksi terakhir style nya sudah dapat lebih berkompromi.

Dari beberapa koleksi yang telah di buat Anda menonjolkan signature yang berbeda-beda, seperti constructive dan drapping. Sebenarnya karakter seperti apa yang merupakan signature dari karya Anda?
Selama ini saya membuat koleksi memang selalu berdasarkan mood dan emosi yang saya rasakan, ditambah lagi saya masih senang mengeksplor tehnik dalam membuat pakaian. Jadi saya tidak suka mengkotak-kotakan gaya saya seperti apa. Memang antara koleksi pertama dengan koleksi kedua secara warna sangat berbeda, tetapi jika diratakan satu sama lain sebenarnya memiliki benang merah hanya inspirasinya yang berbeda.
Seringkali ide awal saat digambar berbeda dengan saat pakaian tersebut sesudah jadi,karena bagi saya yang terpenting adalah saya tidak merubah inti dari pakaian tersebut. Saya sangat menyukai sesuatu yang classy dengan sedikit twist. Misalnya, walaupun wujudnya constructive tapi bentuk asli adalah hanya tube dress. Sama halnya dengan kebaya, saya tidak akan merubah siluet anggun dari kebaya tersebut melainkan hanya memberi sedikit twist pada detail-detail tertentu.

Selain Anda suka mendekonstruktif suatu bentuk, apakah Anda juga suka mengubah bentuk suatu bahan?
Saya sangat suka sekali mengubah bentuk suatu bahan, hingga berbeda dengan wujud aslinya. Misalnya dari bahan yang plain saya ubah menjadi bertekstur atau membuat velvet menjadi embroidery. Saya juga tidak senang dengan warna bahan yang sudah banyak dipasaran. Dan untuk beberapa jenis bahan sebelum diolah harus mengalami beberapa proses dahulu, agar hasilnya berbeda. Intinya saya sangat menyukai exploring fabric.

Bagi Anda untuk suatu pakaian selain wujudnya yang menarik, dan bahan yang berbeda dari pasaran. Apakah ada hal lain yang juga penting bagi Anda?
Hal lain yang juga penting bagi saya adalah pattern. Dulu pada saat saya sekolah design sempat dikeluarkan dari kelas pattern making, karena saya tidak menyukai kelas tersebut. Tapi setelah bekerja di Oscar Lawalata saya mulai mempelajari pattern, ditambah saya juga memperdalamnya melalui buku-buku. Bagi saya inti dari sebuah pakaian adalah selain nyaman dipakai, juga membuat tubuh seseorang menjadi tampak proporsional, bukan mengubah badan seseorang yang gemuk menjadi kurus. Jadi sebab itulah mengapa pattern bagi saya merupakan hal yang penting.

Setelah proyek idealis Anda saat ini telah tercapai, apakah ada cita-cita lain yang ingin Anda raih di industri fashion ini?
Sebenarnya ada rencana untuk membuat suatu label ready to wear yang mass product untuk wanita dan pria, dan tentunya tidak membawa label ‘Sapto Djojokartiko”. Tapi sampai saat ini belum bisa dipastikan kapan, karena masih dalam tahap persiapan segala aspek.

Dengan begitu banyaknya brand mancanegara yang silih berganti masuk ke Indonesia, apakah hal tersebut juga mendorong Anda untuk melebarkan pasaran ke luar negeri?
Sempat terlintas untuk memasarkan karya saya ke luar negri, dan kemungkinan itu adalah timur tengah. Tapi masih belum dapat dipastikan, masih banyak faktor-faktor lain yang harus diperhitungkan sebelumnya. Karena dalam melebarkan suatu bisnis ke Negara lain, bukan hanya sekedar semangat untuk berkompetisi saja melainkan butuh banyak pertimbangan yang matang. Terlebih lagi untuk mendirikan sesuatu yang besar dalam industri fashion sangat berat.



Read Full Post »

%d bloggers like this: