Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Canteen Plaza Indonesia’


Below are the excerpt of an article “Klasik Dekonstruktif” written by Muhammad Aziz and published in an issue of Harper’s Bazaar Indonesia.

Pertemuan dua destinasi dalam sepotong busana. Sapto Djojokartiko memperlihatkan interpretasi versi muda dari siluet konvensional.

       Mendengar nama Sapto Djojokartiko, sebelumnya banyak dikenal sebagai desainer yang melayani kebaya made to order untuk kesempatan pernikahan atau perhelatan society. Teknik manipulasi siluet dengan fokus pada struktur korset serta detail kebaya menjadi upaya desainer pria muda ini untuk membuat tubuh seorang wanita terlihat lebih proporsional.

       Pada kesempatan koleksi kali ini, dia berusaha mengakomodasi semua kebutuhan pengantin wanita dengan variasi jenis busana mulai dari kebaya, cheongsam hingga gaun pengantin internasional. Tetap mengedepankan ciri khasnya yang bermain dengan gaya dekonstruktif namun tetap menampilkan sisi klasik yang kadang terlihat romantis. Begitupun sebaliknya.

       Kekuatan desain kali ini banyak memperlihatkan bentuk kolase dari bahan lace kemudian dibuat berlapis-lapis. Atau memberikan inspirasi lain berupa warna nude dengan aksentuasi palet putih sebagai gaun pernikahan. Beberapa gaun bahkan diakui Sapto terinspirasi dari citra elegan versi Grace Kelly dengan penempatan kancing yang tidak lazim, potongan asimetris serta komposisi terlihat messy namun tetap terlihat chic. Terlebih kesan volume hadir melalui penumpukan tulle yang memberikan kesan cantik dan memberikan sedikit sentuhan high fashion dalam pilihan desain gaun pengantin.

Sapto Djojokartiko photographed during his collection showcase at Canteen, Plaza Indonesia, in a page of Harper’s Bazaar Indonesia (above).

In an issue of the same publication, an article was published regarding the designer’s early career work with Reshna in Reshna Sapto. Below are the excerpt:

Reshna Sapto

Menyebut label di atas ternyata bukanlah nama seseorang melainkan kolaborasi dua orang desainer lulusan sekolah mode Esmod, Reshna S. Kartasasmitha dan Sapto Djojokartiko.
Mengenai pembagian tugas, Sapto lebih berkonsentrasi pada desain dan Reshna pada bagian pemasaran. Walau kolaborasi ini dimulai telah cukup lama sejak tahun 2000, namun mereka memang lebih memilih jalur ‘underground‘ dalam berbisnis. Sehingga ketika menyebut label ini, sebagian orang justru memilih mengernyitkan kening. Namun di barisan klien yang mayoritas socialite ibukota, selebriti ternama, hingga pendamping politisi terkemuka, justru namanya lebih familiar.

Read Full Post »

%d bloggers like this: