Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Eve Indonesia’



An interview with Sapto Djojokartiko was published in the June 2011 issue of Eve Indonesia. Below are the excerpts from the interview by Kuteu Mayanti and photographed by Sianny Widyasari:

Namanya Sapto Djojokartiko. Di jajaran fashion designer, nama Sapto, perlahan tapi pasti, mulai bergaung. Keterlibatannya di dunia fashion dimulai dari mengurus wardrobe untuk iklan, lalu stylist untuk video klip. Bahkan pria ini pernah juga menjajal kemampuannya sebagai make-up artist. Gebrakan dilakukannya tahun 2009. Pria Libra ini memamerkan koleksi busananya untuk pertama kalinya di Jakarta Fashion Week 2009 dengan tema Joan of Arc. Eve mengajak Anda
mengenal lebih jauh pria penyayang anjing ini.

Bagaimana pendapat anda terhadap fashion?
Sebenarnya standar, fashion adalah sesuatu yang dibuat dengan memakai konsep, sehingga lebih bisa ada idealismenya. Namun dalam fashion, saya bukan orang yang mengagungkan trend, tapi lebih mengagungkan style, karena menurut saya, trend itu berasal dari style. Tapi saya tidak menutup diri sepenuhnya, hanya saja, saya tidak terlalu mengikuti semua. Contohnya saat semua orang berbondong-bondong membuat kebaya, saya tidak mau ikut-ikutan membuat kebaya, karena tidak mau dicap sebagai desainer kebaya.

Bagaimana Anda mendefinisikan signature style Anda?
Ide awalnya saya suka menciptakan sesuatu dengan struktur, tapi pada saat yang bersamaan saya harus membalik struktur itu dengan memberikan sentuhan lembut. Begitu pula sebaliknya. Ketika ide saya berawal dari yang lembut, saya harus mengkontraskan dan men-twist. Tapi tidak secara harafiah ‘romantis’. Orang lain bisa bilang ini romantis, tapi tidak secara langsung berjudul romantisme yang sentimental dan menyemenye. Contohnya dalam koleksi saya yang bertema gothic dan berunsur dark. Saya memberikan sentuhan feminin melalui bahan transparan, lace, memakai tekstur dengan drappery, sehingga tetap terasa bahwa ini sebuah ilustrasi yang gelap. Saya juga selalu memasukkan unsur klasik in every collection, dan membuat bagaimana caranya agar klasik itu di-twist menjadi sesuatu yang fun.

Nuansa apa yang menjadi ciri khas koleksi Anda?
Saya bukan tipe orang yang menyukai warna. Lihat saja koleksi saya, warnanya berputar-putar di hitam, abu-abu dan krem. Saya pernah sekali menantang diri sendiri untuk memakai warna-warna psychedelic, tapi saya tidak merasa nyaman. Akhirnya saya tahu bahwa memang tidak bisa. Warna paling berani yang saya gunakan adalah merah, selebihnya berkisar pale, off white, khaki dan abu-abu.

Apa target yang ingin Anda raih sebagai fashion designer?
Pendewasaan desain. Dulu setiap desain harus kece, harus ada faktor ‘wow’. Sekarang saya ingin orang tetap merasakan ada, tapi dengan cara yang beda. Saya ingin orang merasakan ada effort lebih dalam karya saya, tidak sekadar yang meledak-ledak, tapi ada detail kecil yang tidak terlalu mencolok. Detail tersebut harus terlihat jelas tingkat kesulitannya dan memiliki ‘nyawa’.

Bagaimana cara Anda melayani klien?
Saya tidak pernah memaksakan desain kepada klien. Saya harus mendengarkan mereka, termasuk mengetahui yang tidak mereka suka. Saya ajak klien diskusi. Prinsipnya adalah selalu ingin memberi kenyamanan dan tidak membatasi klien. Walau beberapa kali terjadi revisi dan bisa saja akhirnya tidak jadi, saya tidak akan mempermasalahkan.

Apakah resolusi Anda di tahun 2011?
Ada dua. Pertama membuat bridal line dan kedua ready to wear. Bridal line sudah diluncurkan dan sudah jalan, tapi saya harus tetap mempertanggungjawabkan line ini setiap tahun di masa akan datang.

Mengapa bridal line?
Inilah obsesi yang berawal dari masa kecil saya. Dulu, setiap kali saya diajak ke pesta pernikahan, senangnya setengah mati. Saya kagum melihat gaun pengantinnya. Saya kagum dengan rangkaian acara pernikahan, baik yang tradisional maupun yang modern. Saya suka mengamati pakaian penari adatnya dan memikirkan bagaimana cara membuatnya.

Selain itu?
Setiap ibu saya akan pergi ke pesta pernikahan, saya suka sekali memperhatikan dia bersiap-siap, mengenakan kebaya atau gaun lengkap dengan aksesorinya. Makanya saya tidak hanya menyediakan ball gown atau kebaya pengantin saja. Ada beragam busana lainnya, sesuai dengan kebutuhan. Misalnya busana untuk pesta kebun, saya menyiapkan dress putih yang simpel atau cheong sam.

Bagaimana kira-kira trend gaun pengantin di masa mendatang?
Saya rasa akan berubah. Dulu persepsi baju pengantin harus berbentuk ball gown yang selebar-lebarnya, sepayet-payetnya, sebrokat-brokatnya, bahkan kalo perlu di bajunya ada bulu-bulu. Namun sekarang, menurut saya, mereka yang lebih tinggi pendidikannya, bersekolah di luar negeri, secara tidak langsung melihat dan terpengaruh bahwa baju pengantin tidak harus selalu begitu.

Apakah Anda pernah menolak permintaan klien?
Pernah. Saat itu dia menginginkan busana bak untuk performing. Modelnya berleher tinggi, berwarna hijau. Saya ingatkan bahwa menikah adalah acara yang sakral. Jadi, tampillah yang paling cantik, tapi jangan terlihat seperti akan performing. Heboh belum tentu cantik. Saat mensponsori artis pun, saya juga berpesan bahwa mereka harus cantik, bukan harus heboh.

Bagaimana dengan ready to wear?
Saya sudah mendapatkan nama labelnya, tapi masih rahasia, tinggal merampungkan segi bisnis dan produksinya. Tim kami terdiri dari empat fashion stylist dan saya bertanggung jawab sebagai creative director. Yang jelas target ready to wear akan dikemas dengan warna-warna khas saya. Style-nya lebih casual, day wear, dengan konsep dapat dikenakan untuk ke kantor tapi tetap stylish saat akan dipakai ke acara gathering atau hang out di malam harinya. Harganya paling mahal Rp.900.000,-. Kami tidak mau koleksi ini jadi barang kodian.

Boleh tahu desain koleksi ready to wear Anda?
Yang jelas bukan sesuatu yang trendy, tapi lebih klasik, sehingga orang tidak perlu pikir-pikir dulu untuk memakainya. Makanya warna yang dipilih adalah yang simpel. Saya juga ingin mengajak dan mengedukasi orang untuk bisa men-twist baju, sehingga satu baju bisa diubah menjadi lebih dari satu model. Misalnya kemeja bukan sekedar kemeja atau celana yang ternyata bisa menjadi sesuatu yang lain. Dalam bayangan kami, orang bisa memadu baju kami dengan sepatu Chanel, sehingga menghasilkan penampilan yang classy & timeless.

Akankah membuka butik untuk ready to wear?
Saya tidak mau ambil resiko terlalu besar dengan langsung membuka toko di mall atau butik khusus. Menurut konsultan The Goodsdept, baju saya itu punya market luas, mulai anak muda sampai mereka yang sudah matang. Bahkan Goodsdept sangat welcome jika saya mau bergabung. Mereka malah menantang saya untuk mengeluarkan line bulan April lalu, tapi saya tidak sanggup, sebab baru selesai dengan bridal linenya.

Apa saran Anda untuk sesama fashion designer tanah air?
Dari segi kreativitas, desainer Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Jangan hanya sekedar jor-joran untuk kreativitas, karena menciptakan sebuah karya tidak cukup sampai disitu saja. Ada tanggung jawab setelah itu. Banyak desainer yang hanya memikirkan desain saja. Aksinya kencang dan lantang, tapi kurang memikirkan sisi penjualan, sehingga belum tentu membuat orang ingin membeli karyanya. Akibatnya? Tersendat di tengah jalan. Kecuali jika dia bisa menghidupi diri sendiri tanpa mengandalkan profesinya, itu sih lain perkara. Kemunculan Level One, The Goodsdept, dan Brightspot adalah contoh mutlak kreativitas bisnis yang jenius, yang tercipta dari sebuah ide. Berjualan secara online adalah cara lain yang bisa dilakukan. Jujur saya mengagumi Biyan, karena semua line yang ditanganinya berkembang baik dari segi ide maupun dari bisnisnya.

Advertisements

Read Full Post »


Model Kelly Tandiono wearing Sapto Djojokartiko’s lace corsette, 3 layers of off white maxi skirts and a structured ruffles mini dress in a fashion spread for Eve Indonesia June 2011.


Read Full Post »


Sapto Djojokartiko’s fringe epaulette, grey chiffon dress with sequins, ikat dress with fringe on the shoulder and ruffles details, fringe mini dress with bold shoulders and military jacket with fringe and silver buttons are featured in a fashion spread for Eve magazine Indonesia January 2011.





Read Full Post »


Photographer Sianny W lensed a model wearing Sapto Djojokartiko’s collection for “The Rich Treatment” editorial in Eve Indonesia September 2009. The model wears a white empire dress, a black bustier long dress, a dress with beaded details and a long off white satin dress.

Read Full Post »

%d bloggers like this: